27 Maret 2011

Kisah Seorang Supersub




Pekan ke-6 Liga Inggris menyuguhkan momen Michael Owen sebagai supersub yang menghindarkan kekalahan United atas Bolton. Sejak Owen datang ke Old Trafford, semua orang sudah menduga bahwa peran utamanya memang hanya akan menjadi seorang supersub.
Apakah peran sebagai seorang supersub bisa dibanggakan?
Kita pasti masih ingat dengan seseorang yang melegenda 'hanya' dari statusnya sebagai supersub, Ole Gunnar Solskjaer.
"You can still make a big, big impact at this club even if you're not a first-team regular. I think maybe that's the lesson some of them have learned from what happened to me." (Solskjaer)
Lalu, sejak kapan seorang pemain pengganti mulai diperhitungkan dalam sepakbola?
Sejarah Pemain Pengganti dalam Sepakbola
Ternyata baru sekitar 60 tahun yang lalu, peraturan tentang adanya seorang pemain pengganti mulai diperkenalkan. Dalam pertandingan resmi, pemain pengganti pertama dalam sejarah adalah Horst Eckel. Dia bermain untuk Jerman dalam kualifikasi Piala Dunia 1954 melawan Saarland, sebuah negara kecil yang sekarang sudah tidak ada lagi.
Di Liga Inggris, peraturan tentang adanya pemain pengganti baru dipakai sejak musim 1965-66. Selama 2 tahun sejak peraturan ini diperkenalkan, sebuah tim hanya boleh mengganti pemainnya sebanyak satu kali, kecuali jika ada yang cedera. Baru pada musim 1967-68, pergantian pemain karena alasan taktik diperbolehkan. Pemain pengganti pertama dalam sejarah Liga Inggris adalah Keith Peacock (Charlton, vs Bolton), dia menggantikan kiper Mike Rose yang mengalami cedera 10 menit sebelum pertandingan bubar.
Sejak pergantian pemain mulai diperkenankan pada pertengahan abad 20, pemberdayaan seorang pemain pengganti berkembang menjadi analisa taktik yang menarik. Kapan dan siapa pemain yang tepat untuk menjadi menjadi pengganti, menjadi salah satu kunci kemenangan yang harus diperhitungkan.
Seorang pemain dengan stamina yang lebih segar dan bisa merubah pertandingan seringkali menjadi senjata rahasia di sisa waktu permainan. Itulah mengapa harus ada super substitute alias pengganti super.
Awal Kemunculan Supersub
Awalnya, istilah supersub muncul sebagai julukan untuk pemain Liverpool yang bermain pada era 1970-80-an, David Fairclough. Di musim debutnya, Fairclough membukukan 14 penampilan, 9 diantaranya sebagai pemain pengganti. Dia mencetak 7 gol krusial di menit akhir pertandingan yang membuat Liverpool sukses memuncaki klasemen Liga Inggris kala itu. Secara total selama karirnya di Liverpool, Fairclough mencetak 20 gol dari perannya sebagai pemain pengganti.
Ole Gunnar Solskjaer
Ketika bicara supersub, rasanya tidak berlebihan menyebut nama Solskjaer sebagai maskot dalam peran yang unik ini. Jika bukan yang terbaik, setidaknya Solskjaer adalah supersub yang layak dikenang.
Solskjaer telah mencetak 29 dari total 126 golnya untuk United dari perannya sebagai pemain pengganti. Tore Andre Flo juga dikenal menjadi supersub bagi pendukung Chelsea karena 13 golnya sebagai pemain pengganti.
Namun lebih dari siapapun, Solskjaer punya banyak momen yang mengidentikkan dirinya sebagai seorang supersub. Gol debutnya untuk United, terjadi 6 menit setelah dia masuk sebagai pemain pengganti (vs Blackburn, 1996). Begitu pula dengan gol terakhirnya untuk United, terjadi 6 menit setelah masuk sebagai pemain pengganti melawan musuh yang sama!
Musim 1998-99 adalah penahbisan peran supersub yang mengagumkan bagi Solskjaer. Dalam pertandingan liga melawan Nottingham Forest, penyerang berwajah bayi ini mencetak 4 gol dalam rentang 10 menit ketika baru saja masuk sebagai pemain pengganti. Dan puncaknya, semua orang tahu tentang cerita sang supersub Solskjaer di final Liga Champions 1999...
Kisah Sensasional Gedo
Di Benua Afrika, seorang pemain bernama Mohamed Nagy alias Gedo adalah pahlawan supersub bangsa Mesir. Kisahnya di Piala Afrika 2010 sangat unik: Dalam 6 pertandingan tidak pernah menjadi starter, selalu menjadi pemain pengganti, namun menjadi topskor turnamen dengan 5 gol. Seluruh gol dicetaknya di atas menit ke-80, termasuk gol ke-5 yang mengantarkan Mesir menjadi juara!
....
Jadi, sepakbola memang permainan tim. Untuk memenangkan pertandingan, tidak cukup dengan hanya mengandalkan pemain terbaik. Tidak ada seorangpun pemain yang bisa tampil konsisten. Dengan tim yang baik, skuad yang baik, seorang manager punya pilihan untuk menjalankan 'plan B'. Dan, senjata terbaik dalam 'plan B' adalah: menggunakan seorang supersub. Baca selengkapnya JIMMY D SAS

Saat Ayah Membaptis Saya Dengan Piala Dunia

suatu cerita ttg ayah yg mengajak ank nya menonton bola

Ayah tidak henti-hentinya membicarakan kemenangan Denmark di final Piala Eropa 1992 kepada anak sulungnya yang masih berusia 5 tahun. Dua gol dari John Jensen dan Kim Vilfort membawa Danish Dynamite menaklukkan Jerman padahal Denmark berstatus sebagai tim pengganti di kejuaraan itu. Yugoslavia dijatuhi sanksi tak boleh bermain karena perang yang berkecamuk di negara Balkan tersebut.
Sampai 2 tahun berikutnya ayah masih sering menggumamkan prestasi mengejutkan Denmark itu hingga Piala Dunia 1994 tiba. Si tim kejutan di Swedia 1992, Denmark, tidak lolos ke Piala Dunia 1994 dan ayah mengatakan bagaimana menjadi juara Eropa tidak berarti lolos ke Piala Dunia. Perkenalan pertama saya dengan dogma "Bola itu bundar".
Hari itu hari Minggu, ayah membawa saya ke Gramedia. Ia membelikan buku panduan Piala Dunia, entah siapa penerbitnya, tapi kala itu buku panduan Piala Dunia masih bisa dihitung jari, tidak berserak seperti sekarang. Sampulnya berwarna dominan biru tua dengan merah di tepian, warna yang sangat Amerika, tuan rumah kejuaraan akbar tahun 1994 itu.
Tidak jelas mengapa ayah bersemangat sekali membeli buku panduan tersebut. Mungkin ia ingin mendidik saya untuk menggemari sepakbola, olahraga yang menjadi tontonan favoritnya sejak SMA. Tidak ada siaran langsung Piala Dunia di Pematang Siantar, tempatnya sekolah. Ia baru bisa menyaksikan aksi Johan Cryuff di Piala Dunia 1974 2 bulan sesudah turnamen itu digelar. Itu pun menontonnya di bioskop karena rupanya rekaman pertandingan sepakbola laku diputar sebagai tontonan meski tidak aktual.
Saya tidak ingat berapa lama waktu yang diperlukan, tapi saya ingat betul buku panduan tersebut habis saya baca di hari pertama saya memilikinya. Saya tergila-gila dengan sejarah sejak kecil dan berkenalan dengan sejarah sepakbola adalah pengalaman baru yang menyenangkan. Saya berkenalan dengan nama-nama asing yang terlihat begitu menawan dalam buku tersebut. Ayah sudah pernah berkisah tentang Maradona, Pele, Zico, Schillaci, dan Lineker sebelumnya, tapi saya baru bertemu dengan Puskas, Garrincha, Fontaine, Masopust.
Pada hari pertama Piala Dunia, ayah pulang dan membawa album stiker Piala Dunia terbitan Panini. Sebagai seorang bocah yang dijejali dengan tontonan Amerika sejak kecil, secara naluriah saya bersimpati pada tim Amerika. Apalagi saat saya tahu bahwa orang Amerika tidak bisa main sepakbola dan secara umum adalah kaum paria dalam olahraga ini.
Ayah duduk di sebelah saya saat Amerika Serikat menjamu Swiss dalam partai perdana Piala Dunia 1994. Saya bersorak-sorai saat Eric Wynalda mencetak gol yang menyamakan kedudukan 1-1. Sejak saya melihatnya di album stiker Panini tersebut, saya langsung tertarik pada Wynalda untuk alasan yang tidak jelas. Mungkin karena wajahnya mirip dengan aktor pria ganteng yang sering saya saksikan dalam serial TV Amerika. Saya masih ingat bagaimana saya dan ayah beserta adik mengejek wajah kiper Swiss, Marco Pascolo, karena terlihat seperti orang kurang tidur, ngantuk. Padahal wajahnya memang begitu.
Makhluk yang paling membuat saya penasaran di Piala Dunia 1994 adalah Diego Maradona. Ayah memujanya setinggi langit. Ia mengisahkan dengan semangat bagaimana Maradona menari-nari melewati pemain Inggris tahun 1986. Tak lupa juga ia ceritakan bagaimana Si Boncel mendorong bola dengan tangan pada pertandingan yang sama. Ayah tidak lupa menambahkan, "Ia berdosa saat bilang itu tangan Tuhan".
Saya hanya sekali menyaksikan Maradona kala itu dan sejujurnya tidak begitu terkesan. Mungkin ia sudah lewat masa jaya. Si Tangan Tuhan akhirnya dipulangkan dari turnamen karena terbukti mengonsumsi obat.
Sebagai seorang anak kecil yang mudah tertarik secara visual, saya menikmati sekali menonton Nigeria. Yang paling saya tunggu adalah selebrasi gol karena biasanya Daniel Amokachi akan melakukan salto di penjuru lapangan.
Ayah mengatakan bahwa Rumania dan Gheorghe Hagi adalah fenomena di Piala Dunia tersebut. Hagi sang maestro memimpin negaranya hingga perempat-final, termasuk mengalahkan Argentina pada babak sebelumnya. Saya masih terlalu kecil untuk memahami bahwa seorang playmaker seperti Hagi adalah aset berharga. Saya masih terlalu belia untuk mengapresiasi umpan terukur. Yang ingin saya lihat hanyalah orang-orang yang jumpalitan usai mencetak gol.
Jagoan saya, Amerika Serikat, tersingkir dari turnamen karena kalah dari Brazil. Saya tertawa geli melihat selebrasi tarian menggendong bayi dari Bebeto, si Manusia Angin. Selama 3 hari ke depan saya tak hentinya menirukan tarian tersebut. Lucunya, baru esok harinya saya tahu arti dari selebrasi tersebut. Saya kira Bebeto hanya bertingkah jenaka dengan meniru gerakan pemain kabaret.
Saya kecewa karena aksi salto tidak bisa lagi saya saksikan setelah Nigeria disingkirkan Italia. Hal ini membuat saya tidak lagi punya gacoan padahal turnamen baru sampai babak perempat-final. Ayah lalu bercerita tentang kehebatan Hristo Stoichkov dan Emil Kostadinov, dua nama yang saya lihat hilir mudik di surat kabar saat itu, tapi tidak begitu saya perhatikan. Saya tidak begitu peduli pada orang-orang yang namanya sulit saya lafalkan.
Saya tahu Jerman adalah tim kuat yang berstatus juara bertahan maka saya tidak begitu antusias saat ayah mengajak saya menonton Tim Panser melawan Bulgaria di babak 8 besar. Yang terjadi adalah sebaliknya. Satu gol Stoichkov dan satu sundulan mematikan dari pemain botak, Yordan Letchkov menjungkirbalikkan prediksi. Sang unggulan pun rontok. Lagi-lagi saya belajar tentang kehebatan orang-orang underdog, mereka yang tidak dianggap, mereka yang diremehkan.
Karena alasan yang tidak bisa diingat, saya luput menonton babak semifinal. Tapi saya sempat menonton perebutan tempat ketiga antara Swedia melawan Bulgaria yang dimenangkan negara Skandinavia 4-0. Ayah gemar sekali dengan striker Swedia, Tomas Brolin, sedangkan saya tidak. Alasan saya sangat konyol, saya tidak suka bentuk hidung Brolin.
Final Piala Dunia 1994 digelar pada hari pertama tahun ajaran baru. Saya baru naik kelas 2 SD. Final digelar subuh waktu Jakarta dan saya memaksa diri bangun untuk menonton. Saya ingat ayah tidak bersama saya kala itu, nampaknya ia sedang dinas keluar kota. Untuk ukuran anak kecil sekalipun saya bisa merasakan bahwa final tersebut membosankan. Saya menjagokan Italia tanpa alasan spesifik. Saya lebih suka warna biru dibanding kuning, lagipula semua orang nampaknya mendukung Brazil, biarlah saya mendukung mereka yang tidak didukung.
Tidak ada gol yang tercipta selama 120 menit sehingga pertandingan harus diselesaikan dengan adu penalti. Saya terdiam sejenak sambil menganga usai tendangan penalti Roberto Baggio yang terbang sampai Meksiko itu. Brazil memenangi Piala Dunia yang pertama saya tonton. Saya sama sekali tidak tertarik menyaksikan selebrasi mereka meski mereka menari-nari dengan irama yang belakangan saya ketahui bernama Samba. Bagi saya orang-orang berkulit legam dengan lompatan akrobatik seperti Nigeria lebih menarik.
Itu adalah awal perkenalan saya dengan sepakbola, saat ayah membaptis saya dengan Piala Dunia. Hingga saat ini kami selalu berseberangan dalam banyak hal dan perspektif kami tidak selalu sama. Tapi kami dapat duduk bersebelahan menonton sepakbola.
Lazimnya anak kecil, komik adalah bacaan wajib. Ayah menentangnya dan tidak mau membelikan dengan alasan tidak mencerdaskan. Ayah menginginkan saya membaca buku-buku sains. Ayah juga menentang saya menonton serial-serial TV dengan alasan serupa. Tapi hingga saat ini tidak pernah mengusik jika saya hendak menonton sepakbola.
Akhir-akhir ini ayah tidak begitu sering menonton siaran sepakbola meskipun ia memasang TV berlangganan di rumah. Ia lebih memilih tidur agar dapat bangun pagi dengan segar.
Masalah timbul karena siaran langsung Piala Dunia tidak bisa dinikmati lewat TV berlangganan. Saya mengutarakannya pada ayah.
Kemarin, sehari menjelang Piala Dunia, ia pulang dari kantor dengan menenteng antena terestrial.........

Sumber: http://bolaria.com/baca/2010/06/11/saat-ayah-membaptis-saya-dengan-piala-dunia.html Baca selengkapnya JIMMY D SAS

Orang Indonesia Tidak Bisa Main Bola dan Mengurus Bola!

CUMA SEKEDAR SHARE





Di tengah ramainya perhelatan Piala Dunia 2010, saya sempatkan diri untuk menyapa sahabat saya, Marina, seorang gadis Brasil yang tinggal di Sao Paolo. Sebagai pendukung Brasil sejak bertahun-tahun lampau, saya ingin menyatakan dukungan saya pada timnas-nya.

“Marina, Goodluck ya buat Tim Brasil!” sapa saya di Yahoo Messenger.
“Thank you!”, balasnya cepat.
Ia lalu bertanya, “Eh, Indonesia punya tim sepakbola juga kah?”.
Entah mengapa, pertanyaan sederhana itu membuat saya gugup, “Mmm.. Iya, ada”.
“Bagaimana prestasi tim Indonesia? Kalian peringkat berapa di FIFA?”, tanyanya lagi.
“Wah, saya lupa. Sepertinya peringkat kami tidak bagus. Orang Indonesia tidak bisa main bola sih!”, jawab saya sekenanya.
Ia mencoba menghibur, “Ah, jangan begitu! Lalu apa olahraga paling popular di Indonesia?”.
Saya menjawab getir, “Yaa.. sepakbola”.
Ia tertawa, “Oke lah, saya harap tim Indonesia bisa punya banyak prestasi, dan bisa bertanding di piala dunia”.
Saya hanya tersenyum pahit. Dalam hati saya berkata; Itu mah sampai kiamat juga tidak akan kejadian!


Saya tentu tahu, Timnas Indonesia berada di urutan ke-137 dalam Daftar Peringkat Dunia FIFA yang dirilis April 2010 lalu. Jauh dibawah Vietnam (117) dan Thailand (106). Tapi masak saya mesti mengatakan itu ke dia? Malu lah! Saya lebih gila bola dari dia. Dulu, waktu kami sering jalan bareng di Paris, dia sempat heran dengan pengetahuan sepak bola saya. Saya hafal nama pemain Brasil yang bernaung di klub-klub Eropa. Hafal sejarah Timnas Brasil di Piala Dunia. Biasanya Marina hanya mengangguk-angguk, setiap kali saya bercerita dengan penuh semangat tentang sepak terjang pemain Brasil. Dalam hati dia mungkin berkata, “Kasihan amat ya orang ini. Wong saya yang asli Brasil biasa-biasa aja!”

Dulu Presiden SBY pernah bilang (atau ngeles?), kalau kita tidak perlu malu karena tidak bisa menghasilkan satu pun pemain hebat dari 200 juta warga Indonesia. Toh India dan Cina juga tidak punya pemain bola yang hebat. Beliau mungkin lupa, tidak seperti Indonesia, sepak bola bukan cabang olahraga yang populer di negara-negara tersebut. Lagipula Cina punya deretan prestasi di banyak cabang lain. Atlit-atlit mereka selalu mendominasi perolehan medali di Olimpiade atau Asian Games.

Malam menjelang pertandingan final antara Spanyol-Belanda, iseng-iseng saya nonton RCTI. Saya lihat Presiden SBY dan Menpora berbincang seru tentang Piala Dunia dalam sebuah siaran langsung. Dalam hati saya bertanya, kira-kira ada tidak ya, kepala negara lain di muka bumi ini, yang Timnas-nya tidak ikut Piala Dunia, tapi begitu semangat dan antusias membicarakan tim negara lain? Disiarkan secara langsung pula? Sang Menpora tidak kalah semangat. Dengan kumis lebat yang hampir masuk mulut, ia termonyong-monyong membicarakan kehebatan timnas Belanda. Ia bertukas bangga, “Asal anda tahu saja, ada 5-6 pemain Belanda yang keturunan Indonesia loh!”. Lalu ia melontarkan ide ‘cemerlang’ kepada Presiden, “Kita bisa data semua pemain-pemain dunia yang punya darah Indonesia, kita tawarkan, siapa tahu mereka mau main buat PSSI?”. Saya hampir keselek mendengarnya.

Saya bayangkan sang Menpora mendekati Bronckhorst, De Jong, Heitinga dan sejumlah pemain ternama yang ia klaim punya darah Indonesia. Dengan cuping kembang kempis ia berkata kepada mereka, “Meneer, nenek moyang anda kan orang Indonesia. Kira-kira anda mau tidak main untuk Timnas kami? Memang sekarang kami cuma berada di urutan 137 dunia, tidak punya prestasi apa-apa, organisasinya juga dipimpin sama mantan napi korupsi. Tapi kami butuh orang seperti anda, karena kami tidak mampu (dan tidak akan mampu) mencetak pemain-pemain kelas dunia. Gimana, mau ya? Hitung-hitung balas budi sama nenek moyang”. Si Bronckhorst dkk menatap senyum sang Menpora yang nyaris tertutup bulu-bulu di atas mulutnya. Mereka mengernyitkan dahi dan menjawab ketus, “Ya enggak lah!! Kami jadi hebat begini kan karena didikan sepakbola negara kami, Belanda. Enak aja situ mau metik hasil tapi gak mau nanem benih. Kalo situ gak bisa mendidik pemain, ya nggak usah main bola!”.

Kasihan amat Presiden dan Menpora Indonesia yang (seperti saya dan seluruh rakyat Indonesia) hanya bisa menyoraki negara lain di Piala Dunia. Bedanya, saya tidak punya mimpi aneh-aneh, seperti mengkhayal Timnas Indonesia ikut main di PD, atau ada pemain dunia yang ujug-ujug ingin gabung ke PSSI. Saya tentu sedih (dan malu) dengan prestasi Timnas Indonesia. Tapi lebih sedih (dan malu) mendengar mimpi dan khayalan pejabat negara saya. Dari mulai mau jadi tuan rumah Piala Dunia, sampe mengkhayal Bronckhorst mau masuk PSSI. Mimpi sih boleh-boleh saja, Pak. Tapi mimpinya yang bener dong! Silahkan anda bermimpi untuk memperbaiki pembinaan sepakbola di Indonesia, bukannya mimpi mencuri pemain hebat hasil binaan negara lain!

Saya yakin, sampai 100 tahun ke depan, orang Indonesia cuma bisa teriak-teriak di depan layar, nonton bareng di kafe-kafe sambil sambil memakai seragam Timnas negara lain, lalu ngetik status di facebook atau twitter menyemangati negara lain. Kalo punya duit lebih, hasil kerja keras atau korupsi, bisa lah gabung sama supporter-suporter negara peserta Piala Dunia, hitung-hitung nambah pemasukan devisa negara tuan rumah. Yah, orang Indonesia memang tidak bisa main dan ngurus bola!

sumber :  http://bolaria.com/baca/2010/07/13/orang-indonesia-tidak-bisa-main-bola-dan-mengurus-bola.html Baca selengkapnya JIMMY D SAS